Posted on 11 Mar 2026
377 viewsDaftar Isi
Kemasan produk seringkali jadi hal pertama yang dilihat calon pembeli. Wajar kalau banyak pelaku UMKM akhirnya menaruh perhatian besar pada tampilan visualnya, mulai dari warna, tipografi, sampai ilustrasi yang eye-catching.
Tapi ada satu fungsi kemasan yang sama pentingnya dan sering terlewat, yaitu perlindungan produk selama proses pengiriman.

Data dari Statista menunjukkan bahwa industri e-commerce Indonesia terus tumbuh, dengan nilai transaksi yang diproyeksikan melampaui USD 160 miliar pada 2030.
Artinya, semakin banyak produk UMKM yang harus melewati panjangnya rantai distribusi sebelum sampai ke tangan konsumen. Karena itu, desain kemasan yang salah bisa menjadi masalah serius.
Kesalahan UMKM dalam Mendesain Kemasan Produk
1. Terlalu Fokus pada Desain Visual
Tidak ada yang salah dengan kemasan yang menarik. Tapi kalau 90% energi habis untuk memilih warna dan font, sedangkan ketebalan karton atau kekuatan seal plastiknya tidak dipikirkan, hal itu bisa berubah menjadi bumerang.
Kasus yang cukup umum terjadi pada produk makanan artisan. Kemasannya terlihat premium dengan desain minimalis berbahan kertas kraft tipis, tetapi begitu masuk proses pengiriman dua hari, produk tiba dalam kondisi penyok atau lembap karena bahan kemasannya tidak mampu menahan tekanan dan kelembapan.
2. Menggunakan Material Kemasan yang Tidak Sesuai
Setiap jenis produk punya karakteristik berbeda. Contohnya, produk cair butuh kemasan kedap bocor. Produk elektronik butuh kemasan anti-statis. Produk makanan kering butuh kemasan yang tahan kelembapan.
Menurut laporan dari Packaging Digest, sekitar 30% kerusakan produk selama pengiriman disebabkan oleh pemilihan material kemasan yang tidak sesuai dengan karakteristik produknya. Banyak UMKM memilih material berdasarkan harga atau ketersediaan, tidak berdasarkan kebutuhan spesifik produk mereka.
3. Ukuran Kemasan Tidak Proporsional
Kemasan yang terlalu besar membuat produk bergerak bebas di dalamnya dan rentan benturan. Kemasan yang terlalu kecil membuat produk tertekan dan berisiko retak atau pecah.
Ada juga dampak biaya yang sering diabaikan. Ekspedisi pengiriman umumnya menghitung tarif berdasarkan berat aktual atau berat volume, mana yang lebih besar. Kemasan oversized yang bobotnya ringan tetap bisa kena tarif tinggi karena dimensinya besar.
4. Tidak Menggunakan Perlindungan Tambahan di Dalam Kemasan
Bubble wrap, foam sheet, air pillow, atau kertas cacah bukan sekadar aksesori. Perlindungan tambahan di dalam kemasan berfungsi menyerap benturan dan menjaga posisi produk agar tidak bergeser.
Banyak UMKM merasa cukup dengan kardus luar tanpa padding apapun di dalamnya. Padahal proses handling di gudang dan kendaraan pengiriman tidak selalu mulus, paket bisa terbalik, terguncang, atau tertimpa paket lain dalam tumpukan.
5. Tidak Menyertakan Label atau Informasi Pengiriman dengan Jelas
Label yang tidak jelas atau mudah lepas bisa menyebabkan paket salah arah atau tertahan di sortir. Informasi seperti "FRAGILE", "JANGAN DIBALIK", atau "SIMPAN DI TEMPAT KERING" sangat membantu petugas pengiriman untuk memperlakukan paket dengan lebih hati-hati.
6. Tidak Mempertimbangkan Proses Pengiriman Produk
Banyak UMKM mendesain kemasan dengan asumsi produk langsung sampai ke tangan konsumen, padahal di balik layar ada proses panjang yang melibatkan gudang, sortir, muat kendaraan, bongkar muat antarkota, sampai pengiriman last-mile.
Lalu, untuk pengiriman antar pulau, tantangannya lebih kompleks lagi. Produk bisa melewati beberapa titik transit, perjalanan darat, hingga jalur laut.
Itulah kenapa memilih mitra ekspedisi pengiriman barang untuk UMKM yang memahami karakteristik produk itu penting. Layanan seperti ini membantu UMKM memastikan produknya ditangani dengan prosedur tepat sesuai jenis barang.
Untuk rute ekspedisi Jakarta-Makassar, misalnya, kemasan yang tidak dirancang untuk perjalanan panjang lintas pulau sangat berisiko mengalami kerusakan di tengah jalan.
Maka sebelum menentukan desain kemasan, pelajari dulu rute pengiriman yang akan dilalui produk. Jarak jauh, kondisi cuaca, dan frekuensi bongkar muat harus masuk dalam perhitungan.
Tips Mendesain Kemasan Produk yang Aman untuk Pengiriman
Ada beberapa hal yang bisa langsung diterapkan:
- Pilih material kemasan yang kuat dan sesuai produk. Untuk produk yang rentan benturan, gunakan kardus double wall. Untuk produk yang sensitif terhadap suhu atau kelembaban, pertimbangkan kemasan dengan lapisan pelindung tambahan.
- Sesuaikan ukuran kemasan. Idealnya ruang kosong di dalam kemasan tidak lebih dari 20% dari total volume. Kalau terpaksa ada ruang kosong, isi dengan padding.
- Gunakan pelindung tambahan. Bubble wrap untuk produk keras, foam sheet untuk produk dengan permukaan sensitif, dan air pillow untuk mengisi ruang kosong tanpa menambah banyak bobot.
- Pertimbangkan proses distribusi sejak awal. Kalau produk dikirim ke luar pulau secara rutin, desain kemasannya harus sudah mengantisipasi perjalanan panjang, tidak hanya disesuaikan setelah ada komplain kerusakan.
Kesimpulan
Di era pengiriman e-commerce yang terus berkembang, fungsi kemasan sama pentingnya dengan tampilannya, yaitu memastikan produk sampai ke tangan konsumen dalam kondisi baik.
Riset dari McKinsey menyebutkan bahwa pengalaman unboxing yang baik meningkatkan kemungkinan pembelian ulang hingga 40%. Tapi pengalaman unboxing yang baik hanya bisa terjadi kalau produknya tiba dalam kondisi sempurna.
Nah, untuk UMKM yang rutin melakukan pengiriman antar kota atau antar pulau, memilih mitra ekspedisi yang tepat sama pentingnya dengan mendesain kemasan yang benar. Papandayan Cargo, misalnya, hadir sebagai jasa pengiriman barang untuk UMKM yang membutuhkan layanan terpercaya, termasuk untuk rute-rute strategis seperti Jakarta ke Makassar.
Jika kemasan sudah dirancang kuat dan mitra logistiknya dapat diandalkan, risiko kerusakan produk selama pengiriman pun bisa ditekan secara signifikan.
Apakah artikel ini membantu?